Kecurangan UN, Potret Pendidikan Nasional

April 30, 2008 at 6:35 am 13 komentar

Ketua Komisi Pendidikan DPRD Jawa Tengan M. Iqbal Wibisono mengatakan, praktek kecurangan dalam ujian nasional bisa dilakukan oleh para pejabat dinas pendidikan. Sebab selama ini ada anggapan jika tingkat kelulusan siswa di suatu daerah rendah, maka daerah tersebut akan dianggap tidak maju. Sebaliknya, jika tingkat kelulusan tinggi maka daerah itu dianggap daerah yang maju. [TEMPO Interaktif, Senin, 21 April 2008]

Kasus kecurangan Ujian Nasional (UN) tampaknya merata di seluruh daerah. Forum Guru Garut (Fogar) menemukan kecurangan ujian yang diduga melibatkan Dinas Pendidikan Kab Garut. Menurut Ketua Fogar Dadang Johar, Jumat (25/4/2008), kecurangan dan kebocoran soal UN di Kab Garut terjadi dengan modus operandi yang lebih rapi dibandingkan tahun sebelumnya. [okezone.com, Jum’at, 25 April 2008]

Jakarta – Sedikitnya 26 guru, delapan kepala sekolah, dan 13 petugas tata usaha (TU) terlibat dalam kasus kecurangan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA sederajat. Mereka saat ini sudah ditahan oleh pihak berwajib, kata Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Prof Dr M Yunan Yusuf, kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (25/4) siang. [www.sinarharapan.co.id, Sabtu, 26 April 2008]

Liputan6.com, Medan: Sejumlah pengajar yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Guru Medan melaporkan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional di berbagai kabupaten dan kota di Sumatra Utara. Hasil temuan kecurangan ini dilaporkan kepada Gubernur Sumut.

Mungkin beberapa kutipan berita diatas hanyalah sebagian kasus Kecurangan UN yang terjadi pada Ujian Akhir Nasional (UN) 2008. Memang Ujian Akhir Nasional (UN) yang dilakukan pada minggu kemarin dapat menggambarkan betapa buruknya sistem pendidikan nasional kita. Dan yang lebih mengherankan lagi sebagian kasus itu dilakukan oleh praktisi pendidikan misalnya: guru-guru di sekolah yang bersangkutan ataupun tidak menutup kemungkinan oleh dinas pendidikan di suatu daerah karena ada anggapan apabila hasil Ujian Akhir Nasional (UN) di suatu daerah rendah maka pendidikan di daerah tersebut kurang maju.
Hingga saat ini, ada dua kemungkinan mereka melakukan “tugas kotor” tersebut. Pertama, mereka melakukan untuk dibisniskan. Mereka menjual soal-soal Ujian Akhir Nasional (UN) kepada siswa dengan harga yang menggiurkan. Dan kedua, mereka melakukan itu karena mereka ingin semua siswa mereka dapat lulus Ujian Akhir Nasional (UN) karena mereka tidak mau melihat siswanya sedih hanya karena tidak lulus Ujian Akhir Nasional (UN). Seperti yang diberitakan pada salah satu SMA di daerah Medan tentang kasus kecurangan pada Ujian Akhir Nasional (UN), para guru sengaja membenarkan jawaban para murid karena mereka tidak mau melihat orang tua siswa bersedih akibat anak mereka tidak lulus Ujian Akhir Nasional (UN). Para guru itu juga menyalahkan pemerintah yang dianggap tidak adil karena dalam Ujian Akhir Nasional (UN) tersebut, ada pelajaran Bahasa Inggris yang ikut diujikan. Para guru itu menyebutkan jika untuk SMA di kota-kota besar mungkin tidak begitu mengkhawatirkan dengan mengujikan Bahasa Inggris karena banyak siswa-siswa yang dapat mengikuti les bahasa Inggris. Akan tetapi, untuk siswa mereka yang rata-rata orang tuanya hanyalah bekerja sebagai petani, bersekolah saja sudah bersyukur, apalagi untuk mengikuti les. Mungkin cukup membingungkan jika kecurangan Ujian Akhir Nasional (UN) disebabkan pada alasan kedua. Di satu sisi, mereka melakukannya karena dengan niat mulia, tetapi di satu sisi, mereka sama saja menghancurkan definisi pendidikan itu sendiri. Padahal mereka adalah salah satu orang yang berperan besar terhadap pendidikan di Indonesia. Lalu, siapa yang disalahkan dan apa yang harus kita lakukan?
Apakah pendidikan di Indonesia hanya seperti ini. Lalu bagaimana bisa kita mengejar pendidikan negara-negara maju jika dari pendidikan SMA saja sudah seperti ini. Kapankan Indonesia bisa menemukan sistem pendidikan yang memang benar-benar baik? Mungkin itulah tugas-tugas kita sebagai genarasi muda untuk memajukan negara ini. Begitu banyak “lubang-lubang” yang harus kita tambal untuk memajukan negara ini. Dan salah satunya adalah memperbaiki sistem pendidikan nasional, karena pendidikan adalah syarat bangkitnya suatu negara.
sumber:
http://gringo1988.wordpress.com/2008/04/30/kebobrokan-pendidikan-di-indonesia/

Entry filed under: pendidikan. Tags: , , .

Ekonomi Islam Para Penemu Dari bangsa Indonesia

13 Komentar Add your own

  • 1. asuna17  |  April 30, 2008 pukul 6:53 am

    Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://pendidikan.infogue.com/kecurangan_un_potret_pendidikan_nasional

    Balas
  • 2. ahmad pepe  |  April 30, 2008 pukul 11:37 pm

    sudah saatnya cara pandang menyesatkan harus dihilangkan. Penguasaan pada tataran pemahaman saja harus diganti dengan tataran kemampuan berfikir tingkat tinggi, yang tidak bisa diukur dengan soal UN, tetapi keseluruhan kinerja di sekolah so gurulah yang paling tahu kelebihan dan kekurangan guru, tahu dia mesti lulus atau tidak

    Balas
  • 3. khairilazuar  |  Mei 9, 2008 pukul 6:44 am

    Kalau di Malaysia ini, penipuan dalam pembayaran yuran berlaku. Pemerintah mengatakan bahawa yuran persekolahan percuma walhal yang percumanya yuran asas yang murah tetapi yang naik yuran sampingan sehingga mencecah ratusan ringgit ….

    Rakan2 di Indonesia
    kunjungi blog saya di
    http://khairilazuar.wordpress.com
    berilah komen yang bernas di setial artikel saya

    Balas
  • 4. Toni  |  Mei 10, 2008 pukul 1:40 am

    Pendidikan minus moral!

    Balas
  • 5. ahlis  |  Mei 10, 2008 pukul 5:06 am

    Memang pendidikan kita masih banyak sekali PR yang harus dikerjakan tidak hanya dipikirkan apalagi pemerintah. Kita juga wajib memberi dukungan semampu kita. Kadang lebih mudah untuk mengkritisi. Tapi memang banyak faktor yang menyebabkan pendidikan kita, bukannya menjadi baik malah semakin tidak mendukung kemajuan pendidikan kita. Masalah UN memang sangat memberikan fenomena yang menjadikan masalah bagi pendidik dan para siswa. Tapi saya yakin itu adalah sebuah proses untuk kemajuan pendidikan bangsa ini.

    Balas
  • 6. susiyanto  |  Mei 24, 2008 pukul 4:45 pm

    Dan salah satu potret bahwa pendidikan tidak berhasil adalah tidak menghasilkan lulusan yang benar-benar cerdas terbukti kebocoran UAN masih terdeteksi (belum pinter dan belum bisa minteri apalagi harus dituntut minterna)

    Balas
  • 7. seva  |  Mei 27, 2008 pukul 8:20 am

    sepakat, pendidikan adalah syarat bangkitnya suatu negara.

    dengan sistem pendidikan negri kita yang memprihatinkan, kita dituntut ikut serta berperan dalam hal mencerdaskan anak bangsa dengan cara kita masing-masing.

    Balas
  • 8. fuad syamee  |  Mei 31, 2008 pukul 9:22 am

    gurunya udah kaya’ gitu bagaimana dengan anak didiknya nanti yaah.

    Balas
  • 9. ardansirodjuddin  |  Juni 21, 2008 pukul 5:39 am

    Saya sepakat dengan anda, kecurangan UN harus diminimalisir, bagaimana caranya, lihat tulisan saya di http://www.ardansirodjuddin.wordpress.com. Matur nuwun

    Balas
  • 10. oRiDo™  |  Juli 13, 2008 pukul 5:47 am

    hhhh….
    gimana mo jd negara maju klo kayak gini yah..😦

    Balas
  • 11. siti fatimah  |  November 20, 2008 pukul 5:57 am

    dimana-mana sekolah itu yang tau semana kepintaran dan kemampuan siswanya untuk belajar…
    sedangkan pemerintah menetapkan angka atau pun nilai yang haruz ditargetkan kepada setiap murid
    satu sisi semua sekolah itu berbeda-beda
    disis lain semua siswa itu mempunyai kemampuan yang berbeda
    apakah dengan memberi kebijakan dengan adanya bos dan sebagainya itu,pemerintah sudah merasa bahwa semua siswa itu mampu dengan segala kebijakan pemerintah?
    sekarang aja banyak anak-anak yang terlantar tidak sekolah
    apakah pemerintah tidak menyadari itu semua
    mungkin saja sekolah melakukan itu karena mereka tidak mau siswanya menangis darah karena tidak lulus
    bisa kah pemerintah memberikan pelajaran yang tidak melampaui batas otak para siswa
    walaupun mereka sudah susah payah belajar
    tapi bagi mereka pelajaran yangsekarang dengan yang dulu itu berbeda
    harapan kami kedepan adalah
    adanya perubahan terhadap mutu pendidikan di Indonesia
    walaupun kita banyak ketinggalan dari bangsa lain

    Balas
  • 12. smpn5oku  |  Desember 25, 2008 pukul 4:39 am

    Dilema yg tdk hbs2nya.Trms atas kunjungan senopati ke http://smpn5oku.wordpress.com. Berkali2 udh cb login ke infogue,tp gagal trs,knp ya?

    Balas
  • 13. sabdalangit  |  Januari 3, 2009 pukul 6:59 am

    Salam Kenal mas Senopati Arthur
    Mudah2an anda dapat meneruskan perjuangan “wong agung ing Ngeksigondo” sebagaimana yg tersurat dlm serat Wedhatama.

    mari membangun bumi nusantara yg berbudi pekerti luhur

    http://sabdalangit.wordpress.com
    “Jalan setapak menggapai spiritualitas sejati”

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pos-pos Terbaru

Blog Stats

  • 182,746 hits

%d blogger menyukai ini: